• Articles

19 December 2014

Yang Pergi Diam-Diam (Untuk Johan Budhie Sava)


Siapakah engkau?
Yang menjulang di remang petang pasca kepergian Lan Fang?
Berbalut putih, berhias asap, berselendang senyum

Siapakah engkau?
Yang begitu santun bicara, seolah kau bukan siapa-siapa?
Berkata tanpa rasa , bergerak tanpa suara, tinggi namun setara.

(*)

Kemudian
Kau selalu ada, pada waktu-waktu yang tak biasa
Pada jam-jam insomnia, kau ada disini, disana, dimana-mana

(*)

Biar kumainkan Moonlight Sonta bertubi-tubi,
Biar kurangkai kembali, kepingan mozaik tentangmu, di dalam sini
Sebab gambarmu ada di setiap hati kami, hati kami, hati kami.

(*)

Kau tak pantas ditangisi, tidak, sebab para maikat itu pasti telah menyambutmu
Kau tak pantas disesali, tidak, sebab Tuhan telah siapkan istana untukmu

(*)

Aduh!
Kaukah itu? Yang selalu berkata : saya manut, saya manut
Mengapa kau biarkan dirimu begitu mudah? Begitu ramah?
Mengapa kau biarkan kami yang istimewa?
Seharusnya kau bisa otoriter
Seharusnya kau bisa kejam
Seharusnya kau bisa berkuasa
Tetapi mengapa? Kau selalu berkata ‘manut’ ?
Bukankah hatimu seharusnya keras dan berbaja dengan segala kuasamu?
Tapi kau begitu tunduk, begitu luruh
Senyummu ada dimana-mana
Tanganmu ada dimana-mana
Kau memilih untuk dikenang sebagai orang biasa,
bukan pengusaha, seniman, politikuas atau apa.
(Kau membuatku malu)

(*)

Sekarang kau pergi diam-diam, tinggalkan kelam duka kami
Kau pergi diam-diam, tanpa ijinkan kami bersitatap denganmu
Kau biarkan pergimu tinggalkan rindu
Kau pergi diam-diam, dalam sakitmu,
Kau pergi diam-diam…..
Maafkan kami,
Yang abai,  Yang lalai
Kami hanya peduli pada senyummu, pada gembiramu
Kami tak peduli pada sakitmu,
Bahkan kami tak pernah bertanya apakah kau baik-baik saja?

(*)

Kau pergi diam-diam…
Menelikung kami,
Kau buka pintumu untuk maut datang, sendiri
Beraninya kau, hadapi dia, sendiri, diam-diam…
Kau sisakan kami,  lembaran kenangan, hanya yang indah saja
Kau selalu menjadi dewa penggembira
Kau siksa kami dengan kenangan itu
Ketika kau dengan gaya tak bersalahmu, beringsut mendekati kami,
Para penulis tidak tenar
Para penulis pemula, yang kau buat merasa besar,
Dengan hadirmu, dengan dukunganmu.
Kau berbaris menunggu giliranmu
Menunggu kami menulisi buku kami, dengan jemari kami
Kau seolah anak muda yang tergila-gila pada kami, para penulis bukan siapa-siapa
Sedangkan, kau tahu, kami bukan siapa-siapa, kami hanyalah debu
Kaulah, yang menjadikan kami bangga, sebab kau merendahkan dirimu

(*)

Dan kemudian,
Bulir-bulir airmata kami melaju tak mampu dihentikan
Maut telah menjemputmu, dengan diam-diam
Seperti diammu, menghadapi  detik-detik itu
Kau telikung kami, tanpa beroleh waktu, menemuimu
Kau pergi, dalam diam
Kau tinggalkan kami, sekarat !
Sebab kami belum usai, masih banyak pernik untuk dijahit
Kaulah penjahit itu, kamilah pernik itu
Lalu apa?
Sekarang kau pergi, dalam diam
Dimana kami temukan penjahit sepertimu?
Bahan tubuhmu pun kau jadikan debu… :(

Rewwin: 6-4-2014
By Wina Bojonegoro

Sumber: winabojonegoro.com 

  • share this post

TOKO BUKU BERGARANSI
Quick Respon Togamas Malang

Cek Stok Buku Online (24 Jam)

Kini anda dapat melakukan pengecekan ketersediaan buku di Outlet Togamas secara mandiri. Silahkan pilih kota dan ketik judul atau penulis buku yang ingin anda cari. Selamat Mencoba.

copyright www.togamas.co.id 2014